| Bendera Merah Putih yang diarak tersebut sebenarnya bukan barang baru, karena sudah dipasang di Jalan Samadi Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu pada Agustus lalu. Namun saat itu panjang bendera belum mencapai satu kilometer. Saat muncul gagasan mengarak bendera satu kilometer, kemudian bendera dijahit lagi hingga mencapai panjang yang diinginkan. Butuh waktu sekitar satu bulan untuk menjahit dan menambah panjang bendera hingga 1000 meter. Seluruh masyarakat dan pemuda Pesanggrahan cancut taliwanda untuk mengerjakan misi mereka. Buktinya, hari Minggu kemarin, bendera tersebut benar-benar diarak keliling Kota Batu. Kali bukan hanya warga Pesanggrahan yang bergerak malah didukung pula oleh pemuda se Kota Batu dan Malang. Total pemuda yang mengarak lebih dari 600 orang, termasuk komunitas yang meramaikan kegiatan itu diperkirakan sudah mencapai 1000 orang. Kirab itu sendiri mulai dilakukan dari Desa Pesanggrahan menuju alun-alun Kota Wisata Batu sekitar pukul 08.00.“Kegiatan ini sudah kita persiapkan sejak Bulan Agustus mas, yang ikut para pemuda dari seluruh Kota Batu dan ada juga dari Malang,” ujar Simon Purwo Ali Ketua Karang Taruna se Kota Batu. Menurut Simon, kirab itu dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ke 83 yang jatuh 28 Oktober 2011. Proses pengerjaan bendera menurut dia dilakukan selama satu bulan. Seluruh pengerjaan dilakukan secara kolektif oleh warga Pesanggrahan tua dan muda.“Pengerjaan dilakukan seluruhnya secara gotong royong, semua saling mengisi,” tegasnya. Sementara, start kirab di Jalan Trunojoyo melaju menuju Jalan Panglima Sudirman melalui Kantor Pemkot Batu. Kegiatan itu bertajuk kirab bendera 1000 meter, kirab Hanoman, 1000 pemuda berbatik serta kampanye selamatkan desa selamatkan kota. Bendera tersebut dikawal patung Anoman raksasa setinggi sekitar tiga meter. Koordinator cukup repot juga mengatur seribu relawan yang bertugas mengaraka bendera. Agar bendera tidak putus, seluruh peserta diminta berjalan pelan-pelan sambil mengikuti instruksi melalui megaphone. Kondisi tersebut cukup menyita perhatian para pengguna jalan. Yang miris, ketika sampai di perempatan Kelenteng Kota Batu, bendera itu sempat ditabrak pengendara jalan. Sejumlah mobil, sepeda motor serta mikrolet menebas jalur bendera. Mereka tak sabar menunggu kirab bendera selesai. Relawan terpaksa mengangkat bendera itu tinggi-tinggi. Kendati demikian, relawan yang berasal dari Karang Taruna, Siswa SMK-SMU serta elemen pemuda dari Malang itu tetap bersemangat melanjutkan kirab. Sampai di alun-alun sekitar pukul 10.00 saat itu mereka disambut band lokal Kota Batu. Penggulungan bendera super panjang itu memakan waktu sekitar setengah jam dipandu sepuluh relawan. “Kegiatan ini juga didukung Mustang FM Jakarta, Kemenpora, masyarakat Desa Pesanggrahan, Sahabat Merah Putih mas,” ujar M. Anwar koordinator kirab. Menurut dia, ada sejumlah hal yang perlu diketahui oleh masyarakat yakni launching Generasi Optimis. Kata dia, kaum muda saat ini yakin dan optimis Indonesia bakal lebih baik. Nantinya dalam aksi tersebut, seluruh relawan akan menerima penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga. “Proses ini lanjutan dari pengibaran bendera di pinggir jalan mas, juga dalam rangka memeriahkan Hari Sumpah Pemuda,” imbuh dia. Kenapa juga mengarak Anoman, kata dia, tokoh itu adalah simbol dari anak-anak muda. Tokoh hanoman lincah dan gesit seperti anak muda namun juga memiliki kebijaksanaan. Sedangkan mengenai kampanye selamatkan desa dan selamatkan kota adalah gerakan para pemuda. “Gerakan ini adalah untuk menyelamatkan kearifan lokal kita, sebagai pemuda kita harus optimis dan menjadi pelopor,” tandas dia. |
Minggu, 30 Oktober 2011
Arak Merah Putih Sepanjang 1000 Meter
Fashion Street SMAN I Batu
| BATU – Jika biasanya fashion show di atas panggung, namun siswa SMAN 1 Batu, Sabtu (29/10) justru memanfaatkan fasilitas jalan 500 meter untuk catwalk. Bahkan peserta tidak sekedar berlenggak-lenggok, namun mereka bercerita seperti sebuah opera di Jalan Agus Salim Kota Batu. Fashion street tersebut, merupakan rangkaian kegiatan untuk menyambut Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa. Tema yang diangkat dalam kegiatan menyambut dua hari besar itu, adalah Satukan Perbedaan Budaya dalam Kebersamaan. Dengan tema tersebut, siswa sekolah berlokasi di Jalan Agus Salim ini, ternyata sangat kreatif. Mereka menampilkan cerita-cerita rakyat hingga legenda lengkap dengan kostum tradisional, yang dikenakan untuk siswa pria maupun perempuan. Sebut saja satu kelompok siswa, mengangkat cerita Ken Arok. Beberapa siswa pria mengenakan pakaian ala prajurit kerajaan. Satu orang menjadi Ken Arok dan satu menjadi Tunggul Ametung. Perjalanan Ken Arok sebagai rakyat jelata hingga menjadi Raja Singosari juga diceritakan, termasuk cerita tokoh yang namanya diabadikan jadi GOR di Kedungkandang, Kota Malang itu, ketika merebut Ken Dedes, janda Tunggul Ametung. ‘’Kami ingin menggugah pengetahuan dan kepedulian anak-anak, dengan budaya rakyat. Legenda seperti ini adalah bagian sejarah, namun belum tentu ada dalam pelajaran sekolah,’’ ungkap Pamor Patriawan, Waka Kurikulum SMAN 1 Batu. Fashion street ini diikuti oleh 28 kelompok, berasal dari perwakilan masing-masing kelas. Legenda Minak Jinggo, Joko Tarub dan sederetan cerita rakyat atau legenda itu kesemuanya diatraksikan oleh siswa. Mereka sangat kreatif dalam melakukan acting, musik pengantar opera maupun memilih fashion untuk peragaan. Atraksi itupun sempat membuat Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu, Dewanti Rumpoko bangga. ‘’Semua ini dilombakan. Ada tim juri yang memberikan penilaian dan tim juara akan mendapatkan tropi dan hadiah lain,’’ tegas Pamor. Sedangkan rangkaian kegiatan selain fashion street, antara lain lomba kebahasaan, mulai Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dan Jepang. Selain itu pembuatan komik, festival band dan bazaar ikut memeriahkan kegiatan. |
Kota Batu Terima Penghargaan Anugrah Wisata Nusantara 2011
| Selain wali kota, Kusuma Agrowisata Hotel juga ikut meraih AWN kategori hotel berwawasan lingkungan. Sementara Selecta mendapat nominasi satu kategori obyek wisata pilihan. Sedangkan obyek wisata pilihan terbaik, dimemangkan Banyuwangi. Kabar peraihan AWN itu, tadi malam juga sempat bergema di panggung malam puncak Gemilang HUT Kota Batu ke 10, di Alun-alun. Ribuan pengunjung pun mengapresiasi dengan tepukan tangan sekaligus sorak kebanggaan. Penghargaan yang didapat wali kota itu, bisa jadi merupakan kado istimewa HUT kota ini. Tim juri menilai, Wali Kota Batu memiliki komitmen dan kepedulian tinggi dalam mengembangkan sektor pariwisata. Karena komitmen itulah, dunia pariwisata terus berkembang. ‘’Penghargaan merupakan hal yang sangat baik, namun bukan segala-galanya untuk sebuah pengembangan pariwisata,’’ ungkap Eddy Rumpoko. Menurutnya, dukungan semua pihak dalam pengembangan pariwisata justru lebih penting. Diapun berharap, masyarakat kota ini, aparat hingga pelaku-pelaku objek wisata semakin nyaman untuk peningkatan atau pengembangan pariwisata. ‘’Kalau masih ada pihak yang menjadikan wisatawan adalah sasaran target, tentunya hal itu belum termasuk ikut mengembangkan pariwisata. Jika masih ada yang melakukan, tentu ada wisatawan yang merasa kecewa,’’jelasnya. Sistem target itu, misalnya dilakukan dengan menjual barang atau jasa yang harganya sangat mahal. Ketika wisatawan makan, harganya pun dipatok tinggi karena wisatawan tentu orang jauh sekaligus tidak kenal dengan warga Batu. Begitu juga kamar hotel, bila harga penginapan maupun parkir kendaraan terlalu tinggi, bakal mengecewakan wisatawan. |
Langganan:
Postingan (Atom)