Rabu, 05 Oktober 2011
Selasa, 04 Oktober 2011
Olahan Lidah Buaya, Berharap Saingi Sari Apel
| Lidah buaya, siapa yang tidak kenal jenis tanaman satu ini. Lendir atau getah yang dihasilkan dari daun lidah buaya umum digunakan sebagai penyubur rambut. Dalam dunia industri, lidah buaya banyak dimanfaatkan untuk kosmetik, farmasi, kimia, makanan dan minuman. Daging lidah buaya mengandung mineral, asam amino, serat, enzim-enzim, vitamin,serta berbagai zat bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan. Berbekal dari itulah, ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani Sri Rejeki Kota Batu belajar mengolah lidah buaya menjadi berbagai produk. Kelompok tani yang bermarkas di Jalan Suropati Gang Yoga itu tidak kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya, lidah buaya. Bahan baku itu berasal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Anggalesta yang ada di Kelurahan Ngagglik. Untuk bisa mengolah lidah buaya, mereka harus mencari informasi lebih dulu melalui internet sekitar delapan bulan lalu. Informasi lain dari berbagai referensi pun dikumpulkan. Pengolahan produk itu mendapat bimbingan dari Gapokltan Anggalesta yang membudidayakan lidah buaya. Dari berbagai percobaan, akhirnya dapat menghasilkan minuman sari lidah buaya, bubuk instant lidah buaya dan permen lidah buaya. “Untuk testernya, kami berikan pada anak-anak dan para anggota, khususnya untuk minuman sari lidah buaya dan permen. Hasilnya, anak-anak sangat menyukai dan membuat anak semakin sehat,” ujar Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Mamik Sumarni. Pengolahan lidah buaya itu sebelumnya terinspirasi dari testimoni Ketua Gapoktan Anggalesta, Drs. Muhammad A. Aji yang awalnya terkena penyakit gula. Setelah mengkonsumsi lidah buaya instant, ada perubahan pada kesehatannya yang menjadi lebih baik. Dari inspirasi itulah, akhirnya kelompok tani yang dipimpinnya memproduksi olahan lidah buaya. Awalnya, hanya minuman sari lidah buaya yang dihasilkannya. Kemudian berkembang menjadi bubuk instant lidah buaya, permen lidah buaya, sirup lidah buaya, jenang lidah buaya, selai lidah buaya, steak lidah buaya dan krupuk lidah buaya.“Untuk pemasarannya masih mengandalkan getuk tular dan pameran-pameran yang di gelar Pemkot Batu dan instansi lainnya. Kami juga bekerjasama dengan travel dan biro perjalanan,” terangnya. Produksi olahan itu mampu memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar Kelurahan Ngagglik. Setiap harinya, jumlah produksi minuman sari lidah buaya mencapai 25 dus cup kecil. Sehingga bisa memberikan kesejahteraan kepada keluarganya. “Meski belum booming seperti sari apel, kami berharap sari lidah buaya juga bisa menjadi andalan Kota Batu dan menjadi ikon Kota Batu, selain apel. Karena sudah banyak yang merasakan khasiat dari lidah buaya,” terangnya.Untuk mewujudkan hal itu, kelompok tani itu akan membangun outlet dilokasi yang strategis agar lebih mudah dijangkau para wisatawan. Agar olahan lidah buaya dapat semakin dikenal masyarakat. |
Selasa, 27 September 2011
Peserta dari Eropa ikut BFF 2011
BATU - Batu Flower Festival (BFF), dipastikan bakal berlangsung meriah di Stadion Brantas, Sabtu (8/10) pekan depan. Selain diikuti peserta dari Batu, kota-kota di Jatim, Indonesia dan beberapa negara lain pun ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dihadiri sejumlah pejabat nasional. Tidak hanya itu, 5000 orang komunitas Minahasa dari seluruh dunia yang kebetulan sedang menggelar kegiatan Kawanua Bakudapa di kota ini, ikut bergabung memarakan acara di dalam stadion dengan tampilan kesenian tradisional Minahasa. Bahkan, kesenian daerah dari Kota Batu dan kota lainnya di Jatim, dipastikan turut menghibur pengunjung di stadion. Dilanjutkan karnaval peserta BFF dengan rute yang sudah ditentukan hingga berakhir di depan Hotel Asida. " Jadi, kegiatan Batu Flower Festival nanti bersamaan dengan pembukaan Kawanua Bakudapa sedunia. Mereka adalah saudara-saudara kita dari Minahasa yang menyebar di seluruh dunia, kebetulan sedang menggelar reuni di Kota Batu," ungkap Hj Mistin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Batu. Apalagi Batu Flower Festival itu sendiri juga akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan, Jero Wacik. Sedangkan Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara EE Mangindaan, juga ikut serta hadir. ‘’Dalam event internasional itu, kami juga mengundang Gubernur Jatim, Gubernur Sulawesi Utara, Bupati / Wali Kota serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata se-Jatim,’’ tandas mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu ini. Sementara peserta Batu Flower festival dari Kota Batu sendiri, berasal dari BUMD, SKPD, objek wisata, perhotelan, Desa / Kelurahan se-Kota Batu. Beberapa kota dan kabupaten lain, juga sudah menyatakan ikut. Sementara peserta dari luar negeri justrus merambah ke Eropa, Amerika hingga Australia. ‘’Neraga-negara tersebut antara lain, Australia, New Zealand, Belanda, Timor Leste, Thailand, Taiwan hingga Malaysia serta Singapura. Karena itu, kami mengharapkan peran serta dari masyarakat kota ini untuk aktif dalam kegiatan itu, baik itu yang tergabung dalam objek wisata, perhotelan, desa/ kelurahan maupun BUMN / BUMD,’’ tegas kepala SKPD pengagas acara Batu Flower Festival ini. |
Langganan:
Postingan (Atom)
