Welcome to the Earth .... --- Salam Warkop ---

Halaman

Kamis, 17 November 2011

Dinkes Siagakan 69.000 Vaksin Difteri

Malang Raya – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang tidak ingin kecolongan menghadapi kejadian luar biasa (KLB) penyakit Difteri. Dinkes bahkan menyiagakan 69.000 vaksin imunisasi sesuai kebutuhan bayi dan anak-anak.
”Khusus untuk bayi saja jumlahnya sebanyak 10.893 jiwa,”ujar Kepala Dinkes Kota Malang Eny Sekar Rengganingati,kemarin. Vaksin imunisasi ini diberikan secara rutin. Khusus untuk bayi,diberikan vaksin DPT. Sementara untuk anak-anak usia 6-8 tahun,diberikan vaksin DT melalui Posyandu serta di sekolah- sekolah.
Sementara khusus untuk menghadapi KLB Difteri ini,Dinkes juga mendapatkan bantuan 800 vaksin Toxoids Dhiptheria (TD) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim).”Vaksin ini khusus diberikan kepada petugas kesehatan,” terangnya. Khusus vaksi TD tersebut, harus didatangkan dari Pemprov Jatim karena Dinkes Kota Malang tidak memiliki persediaan.
Selain itu,harganya juga sangat mahal.Petugas kesehatan yang diberi vaksin mencakup tenaga bidan, perawat, serta dokter. Mereka dikhawatirkan tertular pasien yang ditanganinya, sehingga harus kebal terlebih dahulu.Selain itu,interaksi petugas dengan pasien juga dikhawatirkan bisa membawa virus tersebut ke tempat lain.
Sedikitnya, ada 700 tenaga kesehatan yang disiagakan untuk mengani KLB ini.Mereka siaga di Puskesmas masing-masing, serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Menurut Eny, penyuluhan sangat penting karena pemberian vaksin DT bagi anak usia 6- 8 tahun masih banyak mengalami kendala.
”Banyak orang tua yang enggan anaknya diberi vaksinasi DT di sekolah.Alasannya sudah divaksinasi dokter swasta,”terangnya.Apabila vaksin tersebut tidak diberikan, pihaknya sangat khawatir anak tidak kebal dari serangan penyakit yang juga bisa memicu kematian ini. Upaya serupa juga dilakukan Dinkes Kota Batu yang langsung bergerak cepat untuk menangkal penyebaran penyakit Difteri ke wilayahnya.
Salah satunya dengan melakukan imunisasi bagi balita dan anak usia 7-15 tahun. Pelaksanaan imunisasi direncanakan pertengahan bulan ini. ”Kita sudah menerima surat edaran dari Dinkes Provinsi Jatim.Intinya kita diminta waspada dengan penyebaran penyakit difteri itu,” jelas Kadinkes Kota Batu dr Endang Triningsih.
Diterangkan, penyebaran virus Difteri terjadi melalui udara, sehingga cukup sulit ditangkal. Penyakit difteri menyerang tenggorokan.Awalnya pasien menderita penyakit tenggorokan yang sulit disembuhkan.
Kalau tidak segera ditangani, pasien bisa meninggal dunia.”Imunisasi akan kita lakukan secara massal di desa dan kelurahan se Kota Batu.Sasarannya pada balita dan pelajar,” katanya.

Senin, 14 November 2011

Bahasa Indonesia Berpotensi Jadi Bahasa ASEAN

SEMARANG, KOMPAS.com--Pakar bahasa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang, Dr. Suwandi menilai, bahasa Indonesia potensial dijadikan sebagai bahasa resmi ASEAN dengan segala keunggulan yang dimiliki.
"Kalau dari gramatikal, bahasa Indonesia relatif lebih mudah dipahami dibandingkan bahasa lain, misalnya bahasa Inggris," katanya, di Semarang, Kamis, menanggapi wacana bahasa Indonesia jadi bahasa resmi ASEAN.
Dalam bahasa Indonesia, kata dia, tidak mengenal perbedaan waktu seperti halnya bahasa Inggris yang membedakan susunan gramatikal kata antara sesuatu yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan belum akan terjadi.
Menurut dia, kepraktisan bahasa Indonesia itu menjadi salah satu keunggulan yang memudahkan setiap orang untuk mempelajarinya, apalagi untuk masyarakat yang tinggal di negara-negara kawasan ASEAN.
"Bahasa Indonesia dengan Melayu juga hampir mirip, tentunya lebih familiar bagi masyarakat yang tinggal di kawasan ASEAN setelah bahasa Inggris," kata pengajar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) IKIP PGRI Semarang itu.
Penulisan bahasa Indonesia yang menggunakan huruf Latin, kata dia, menjadikannya lebih mudah dipelajari siapa pun dibandingkan misalnya bahasa Jepang atau Mandarin yang menggunakan simbol dan tanda yang khas.
"Bentuk tulisan Latin relatif lebih banyak dikenal. Karena itu, untuk mempelajari bahasa Indonesia tak perlu belajar simbol atau tanda, seperti halnya bahasa yang tidak menggunakan penulisan Latin," katanya.
Ia mengatakan, bahasa Indonesia relatif mudah beradaptasi dengan istilah-istilah asing dengan melakukan penyerapan, termasuk istilah Inggris yang seiring waktu kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia.
Persoalannya, kata dia, kesiapan bahasa menjadi bahasa resmi yang digunakan banyak negara bergantung pada seberapa besar ketergantungan terhadap bahasa tersebut dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, dan budaya.
"Seberapa besar peran bahasa Indonesia dalam kegiatan perekonomian ASEAN? Misalnya menggunakan bahasa Indonesia lebih memudahkan kegiatan perekonomian karena banyak masyarakat yang memakainya," katanya.
Menurut dia, apabila kenyataannya kebergantungan masyarakat ASEAN terhadap penggunaan bahasa Indonesia belum besar, maka sulit juga mewujudkan bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi kedua ASEAN, setelah bahasa Inggris.
Karena itu, kata Suwandi, perlu kesiapan, upaya serius, dan komitmen untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya dimulai dari kesadaran penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar oleh masyarakat Indonesia.

Kamis, 10 November 2011

Momen Selamatan Desa Oro-Oro Ombo 2011

Apapun Bentuk Kreasi dan Budaya yang ada
Semua patut untuk dihargai dan diapresiasi

 >>> Salam Warkop  <<<
Foto-foto Kegiatan Selamatan Desa Oro-oro Ombo Tahun 2011

Bu Kades ( Bu Lis ) lagi motret Bu Wali ( Bu Dewanti )

Aksi Jaran Kepang
Aksi Caplok'an
Kereta Kencana

Singo Mendem ...... ???
Leak-Leak an ... ??.
Peserta Poco-Poco RW 05 Krajan
Poco-Poco  ... lagi ...  dari Pohkopek
Kontingen Sandukan RW 6 Krajan
Monster dari RW 3 -- Gak Kereng Blas !!!
Siap-siap action !!! Who ??