Welcome to the Earth .... --- Salam Warkop ---

Halaman

Minggu, 09 Oktober 2011

BFF 2011 : Desa Oro-Oro Ombo Tampil Dengan Harmonisasi Kehidupan




Kota Batu terkenal dengan cultur budaya dan keindahan alamnya, sehingga sangatlah tepat dan sesuai dengan Visi Kota Batu sebagai Kota Wisata.  
Seiring dengan perkembangan sektor pariwisata yang teramat pesat, maka sangat dibutuhkan sebuah kearifan lokal untuk mensikapi perkembangan wisata tersebut, sebab tanpa adanya kearifan tersebut maka perkembangan wisata hanya akan merusak keseimbangan ekosistem dan alam yang ada.   
Adapun Kearifan Lokal tersebut tak lain adalah kemampuan kita untuk tetap dapat menjaga Harmonisasi Kehidupan yang telah ada, baik itu flora, fauna, manusia dan alam sekitarnya, sehingga perkembangan pariwisata yang begitu pesat tidak menjadi bencana bagi alam lingkungan dan kehidupan manusia yang ada.
Pada Event Batu Flower Festival 2011, Desa Oro-Oro Ombo mengangkat tema tentang Harmonisasi Kehidupan, hal tersebut tampak dari mobil hias yang ditampilkan.  Pada mobil hias tersebut, digambarkan seorang gadis berada di lingkungan alam yang asri dengan pohon dan bunga di sekelilingnya.  Tak lupa terdapat pula satwa-satwa baik burung, rusa serta kupu-kupu yang mengelilinginya.  Semuanya itu menggambarkan bentuk keindahan Kota Batu yang tak tertandingi dari segi keindahan alamnya.   Tampak pula di sisi kanan dan kiri, tebing-tebingan yang indah serta penataan tanaman hias dan motif etnik sedemikian rupa, sehingga keindahan itu semakin terekspos.  Sedangkan pemakaian aneka bunga hias menunjukkan bahwa kota batu adalah kota bunga, hal ini terbukti dengan banyaknya bunga hias yang digunakan pada event mobil hias kali ini.
Dari gambaran mobil hias tersebut, maka pada dasarnya Kota Batu sudah sepantasnya untuk menyatakan diri sebagai Kota Wisata di Jawa Timur.   Hal ini ditandai dengan banyaknya potensi wisata yang ada baik itu, Cultur Budaya, Keindahan Alam dan Tempat Wisata yang ada.   Tidak hanya itu, potensi masyarakat Kota Batu yang sedemikian besar tingkat kepeduliannya terhadap alam lingkungan dan cultur budaya juga merupakan aset yang sangat berharga bagi perkembangan sebuah Kota Pariwisata, sehingga sangat patut bagi kita semua untuk tetap melestarikan budaya tersebut.   Semua itu hanya bisa dipertahankan dan dilestarikan apabila ada peran serta aktif dari seluruh masyarakat dan Pemerintah Kota Batu.  
Demikian sekilas tentang tema Harmonisasi Lingkungan, yang tak lain adalah bertujuan untuk mengingatkan kembali agar kita semua mampu mempertahankan sebuah nilai kearifan lokal guna kepentingan dan kemaslahatan yang lebih luas, baik bagi kita sekarang maupun untuk generasi yang akan datang.
                                                                                             
Dirgahayu Kota Batu             
 8 Oktober 2011

Sekecil apapun sebuah kepercayaan, 
Jika dilaksanakan dengan penuh dedikasi, 
Hasilnya adalah yang terbaik.
Salam Warkop

Rancangan Mobil Hias
Putri Wisata
Kang Wariyaji lagi asyik ??


Tebing-tebingan sisi mobil hias


Lagi Ngecat tebing-tebingan

Tampak Harmonisasinya

Ada Burungnya juga ...



Siap Action ... Go !!!

Selasa, 04 Oktober 2011

Olahan Lidah Buaya, Berharap Saingi Sari Apel

KALAU selama ini, Kota Batu terkenal dengan minuman sari apel dan sari aneka buah lainnya. Ibu-ibu di Kelurahan Ngagglik yang tergabung dalam Kelompok Tani Wanita Sri Rejeki, memilih untuk mengembangkan produk olahan lidah buaya yang selama ini masih jarang diproduksi di Kota Batu dan daerah lainnya. Meski terbilang baru, mereka berharap produk olahan lidah buaya bisa menjadi andalan Kota Batu, seperti sari apel yang sudah ada.
Lidah buaya, siapa yang tidak kenal jenis tanaman satu ini. Lendir atau getah yang dihasilkan dari daun lidah buaya umum digunakan sebagai penyubur rambut. Dalam dunia industri, lidah buaya banyak dimanfaatkan untuk kosmetik, farmasi, kimia, makanan dan minuman. Daging lidah buaya mengandung mineral, asam amino, serat, enzim-enzim, vitamin,serta berbagai zat bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan.
Berbekal dari itulah, ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani Sri Rejeki Kota Batu belajar mengolah lidah buaya menjadi berbagai produk. Kelompok tani yang bermarkas di Jalan Suropati Gang Yoga itu tidak kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya, lidah buaya. Bahan baku itu berasal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Anggalesta yang ada di Kelurahan Ngagglik.
Untuk bisa mengolah lidah buaya, mereka harus mencari informasi lebih dulu melalui internet sekitar delapan bulan lalu. Informasi lain dari berbagai referensi pun dikumpulkan. Pengolahan produk itu mendapat bimbingan dari Gapokltan Anggalesta yang membudidayakan lidah buaya. Dari berbagai percobaan, akhirnya dapat menghasilkan minuman sari lidah buaya, bubuk instant lidah buaya dan permen lidah buaya.
“Untuk testernya, kami berikan pada anak-anak dan para anggota, khususnya untuk minuman sari lidah buaya dan permen. Hasilnya, anak-anak sangat menyukai dan membuat anak semakin sehat,” ujar Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Mamik Sumarni.
Pengolahan lidah buaya itu sebelumnya terinspirasi dari testimoni Ketua Gapoktan Anggalesta, Drs. Muhammad A. Aji yang awalnya terkena penyakit gula. Setelah mengkonsumsi lidah buaya instant, ada perubahan pada kesehatannya yang menjadi lebih baik. Dari inspirasi itulah, akhirnya kelompok tani yang dipimpinnya memproduksi olahan lidah buaya.
Awalnya, hanya minuman sari lidah buaya yang dihasilkannya. Kemudian berkembang menjadi bubuk instant lidah buaya, permen lidah buaya, sirup lidah buaya, jenang lidah buaya, selai lidah buaya, steak lidah buaya dan krupuk lidah buaya.“Untuk pemasarannya masih mengandalkan getuk tular dan pameran-pameran yang di gelar Pemkot Batu dan instansi lainnya. Kami juga bekerjasama dengan travel dan biro perjalanan,” terangnya.
Produksi olahan itu mampu memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar Kelurahan Ngagglik. Setiap harinya, jumlah produksi minuman sari lidah buaya mencapai 25 dus cup kecil. Sehingga bisa memberikan kesejahteraan kepada keluarganya.
“Meski belum booming seperti sari apel, kami berharap sari lidah buaya juga bisa menjadi andalan Kota Batu dan menjadi ikon Kota Batu, selain apel. Karena sudah banyak yang merasakan khasiat dari lidah buaya,” terangnya.Untuk mewujudkan hal itu, kelompok tani itu akan membangun outlet dilokasi yang strategis agar lebih mudah dijangkau para wisatawan. Agar olahan lidah buaya dapat semakin dikenal masyarakat.