Welcome to the Earth .... --- Salam Warkop ---

Halaman

Senin, 07 November 2011

Ditemukan, Obat Pengendali Hama Apel

PUJON-Petani Apel di wilayah Kota Wisata Batu tak perlu risau dengan serangan hama penyakit kutu sisik di lahan Apel mereka. Pasalnya, M. Tosin (42 tahun) petani asal Jalan Wiyu Pujon Lor Kecamatan Pujon Kabupaten Malang telah menemukan obat pengendali hama. Obat pengendali itu ditemukan Tosin melalui penelitian selama dua tahun di laboratorium rumahnya.
M. Tosin yang juga Ketua Pos Pengembangan Agen Hayati (PPAH) Swadaya Kendali Pujon itu telah bekerja keras. Sebagai ketua PPAH dia sering disambati sejumlah kelompok tani di Pujon maupun binaannya di Kota Wisata Batu. Butuh dua tahun sampai dia menemukan formula rahasia untuk mengendalikan kutu sisik.“Kemunculan kutu sisik itu sebenarnya akibat ulah petani kita sendiri yang memakai obat kimia hingga merusak tanah dan membunuh predator alami,” keluhnya.
Resah dengan kondisi itu, Tosin memberikan pemahaman kepada kelompok tani binaannya. Salah satu upaya untuk bertani sehat adalah dengan meminimalisir pengunaan zat kimia. Pemakaian zat kimiawi akan berdampak panjang terutama memunculkan residu serta hama baru.
“Dengan obat yang saya temukan ini, paling cepat kutu sisik bisa dikendalikan dalam satu musim,” katanya.
Agar tanaman apelnya terhindar dari kutu sisik, petani harus melakukan pembenahan tanah mereka. Yakni dengan memasukkan beberapa mikroba sebagai agen hayati. Pengurangan pemakaian zat kimia juga akan memunculkan kembali predator alami seperti semut hingga belalang sembah.“Selama ini para petani kita asal-asalan dalam menyemprot hama, akibatnya predator alami ikut mati, mikroba di tanah sebagai agen alami juga mati,” paparnya.Setelah dua proses itu dilakukan, baru tanaman disemprot dengan beauveria, fertilisium, metarisium sampai bakteri merah. Ada juga beberapa formula rahasia yang digosokkan ke batang. Tosin mengundang petani yang ingin belajar untuk datang ke rumahnya di Jalan Wiyu Pujon.
“Yang saya sesalkan selama ini pemerintah seperti tutup mata, saya mandiri mas, beli alat laboratorium juga sendiri,” ujar petani lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Yogyakarta itu.
Kembali ke kutu sisik, dia meminta para petani mengenali karakter dari hama tersebut. Biasanya kutu sisik muncul dibawah jam 9 untuk mencari makanan setelah itu kembali ke sarangnya. Para petani harus tahu pula metode penanganan melalui lima tepat, yakni tepat waktu, tepat dosis, tepat aplikasi, tepat sasaran dan tepat jenis obat.“Permasalahan petani adalah mereka memperkosa buah apel yang sebenarnya berasal dari sub tropis yang empat musim, dipaksa terus berbuah dengan berbagai obat yang akhirnya berdampak panjang,” urainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar